Sebagian besar literatur mengenai perbankan Islami cenderung mendorong pengembangan akad mudarabah dan musyarokah, serta penerapan sistem perbankan cadangan penuh. Namun hingga kini kedua ideal tersebut belum terwujud. Kebanyakan, jika bukan seluruh, perbankan Islam di dunia menggunakan sistem cadangan parsial. Walau akad mudarabah digunakan untuk bertransaksi dengan nasabah pemilik dana, murabahah lebih banyak dipakai dalam bertransaksi dengan nasabah pembiayaan.

(more…)

Krisis keuangan menyeluruh di Amerika dan Eropa diawali oleh krisis parsial di sektor kredit perumahan di Amerika. Kepemilikan perusahaan-perusahaan besar keuangan pada instrumen derivatif berbasis aset kredit perumahan ini membuat krisis di sektor tersebut menjalar ke seluruh industri keuangan. Perusahaan non keuangan yang memiliki aset keuangan dalam jumlah besar juga ikut merugi sehingga menimbulkan kesulitan keuangan untuk membiayai operasional produksi. Kerugian lembaga-lembaga intermediasi keuangan membuat mereka menahan kas yang mereka punya dan tidak menyalurkannya untuk pembiayaan sektor riil. Investasi dan operasi perusahaan-perusahaan sektor riil terhambat sehingga krisis keuangan menjalar ke sektor riil.

(more…)

PASAR modal tahun 2008 adalah tahun yang penuh kejadian yang luar biasa. Luar biasa karena ada campuran “ketamakan dan ketakutan”nya. Semua pihak yang berkecimpung di pasar modal, tentu merasakan keparahan krisis pasar modal saat ini. Hampir semua orang capital market tidak menyangka, contoh sebuah investment banking sebesar Lehman Brothers tutup usia. Bank-bank, lembaga keuangan dan perusahaan besar minta di-bail-out pemerintah USA, sesuatu yang tidak biasa di sistem pasar bebas, yang lahir dari sistem kapitalisme.

Sebagai pribadi-pun, selama 18 tahun berkarir di pasar modal, belum pernah melihat krisis global separah ini, dalam arti penurunannya maupun dampaknya. Meski penurunannya besar, namun untuk Indonesia diperkirakan dampaknya tidak separah krisis 1997-1998. Setidaknya sampai akhir 2008 ini, karena tidak ada bank yang dilikuidasi, sehingga kepercayaan masih ada.

(more…)

Krisis finansial saat ini di USA, merembet ke Eropa, Amerika Latin, Australia dan Asia. Kalau berpikir rasional, maka Indonesia dalam posisi baik saat ini. Struktur hutang perusahaan Indonesia masih bagus. Portfolio asetnya relatif tidak terkait derivatif aset di US. Jadi yang sakit parah USA, bukan Indonesia. Perbankan US dikabarkan rugi hingga US$ 1,4 triliun. Eropa yang terkena imbas juga tidak bersedia membantu. Jadi, mestinya salah besar kalau ada masyarakat Indonesia membeli US$ untuk kepentingan spekulasi. Semestinya justru waktunya menjual US$ atau menjual reksadana asing (atau sejenisnya) yang berbasis US$ yang ditawarkan melalui bank-bank/lembaga keuangan lain. Nilai portfolio produk itu saat ini kemungkinan besar turun. Melarikan dana keluar negeri juga beresiko, karena yang dituju sedang kacau perbankannya. Bagaimana kalau bank di LN tersebut tutup? Ini juga harus diperhatikan bagi ekportir, yang mengekspor ke negara-negara yang sedang sakit, agar mendapat jaminan pembayaran atas barang yang diekspor.

Terkait BEI dibuka atau ditutup.Kalau BEI jadi dibuka Senin 13 Oktober 2008 ini, maka sebaiknya yang dibuka adalah pasar non regular (negosiasi, crossing, tunai/cash and carry). Ini tidak langsung membuat IHSG jatuh. Membantu likuiditas pasar, Menyaring yang ingin jual dan beli. Mengurangi kepanikan. Melokalisir transaksi jual paksa akibat margin dan kalau ada asing yang mau keluar dari Indonesia. Asing yang terpaksa jual pun bisa jadi karena juga dipaksa jual akibat margin atau redeem. Cara ini juga untuk menahan asing tidak cepat keluar dari Indonesia. Agar mereka keluar dulu dari Bursa Efek lain, sehingga yang jatuh dalam Bursa Efek Negara lain dulu, bukan BEI. Jadi, yang bertransaksi hanya yang benar-benar berkepentingan menyelesaikan transaksi, bukan untuk spekulasi. Sambil menutup pasar regular beberapa waktu, otoritas dapat menindak dulu pelaku kecurangan di pasar dan mengumumkan ke publik.

(more…)

Uang, Perdagangan Valas US$ dan Krisis

Ekspor uang US$ ke berbagai belahan dunia, telah memicu perdagangan US$ dan mata uang lainnya. Volume transaksi yang terjadi di pasar uang (currency speculation dan derivative market) dunia berjumlah US$ 1.5 trillion hanya dalam sehari, sedangkan volume transaksi yang terjadi pada perdagangan dunia di sektor real hanya US$ 6 trillion setiap tahun (Rasio 500:6). Bahkan catatan terbaru menyatakan bahwa perdagangan valas pada tahun 1989 sebesar US$ 500 milyar per hari, namun pada tahun 2007 menjadi US$ 3,2 trilion atau 6 kali lipat dalam tempo 8 tahun. Hal tersebut dikarenakan return dari saham, obligasi dan mortgage dianggap rendah, maka pilihan spekulan adalah perdagangan valas ini.

(more…)

Menarik untuk menyimak pendapat Nouriel Roubini, dalam tulisannya Badai Resesi Global, yang dimuat di Koran Tempo 25 Agustus 2008.. Dia adalah seorang Guru Besar Ekonomi pada Stern School of Business, New York University.

Kalimat pertama tulisannya,”Kemungkinan semakin besar bahwa ekonomi global- bukan cuma ekonomi Amerika Serikat – akan mengalami resesi yang serius”. Fakta memang membuktikan bahwa G7, kelompok negara maju, sedang dan sudah mengalami tanda-tanda resesi. Secara umum, apabila negara-negara besar terkena resesi, tidak bisa tidak, negara lainpun akan terkena, termasuk Indonesia. Oleh karena itu perlu dicari cara keluar dari resesi, minimal kalaupun kena dampaknya tidak besar.

Mengapa resesi terus-menerus terjadi? Adalah sebuah pertanyaan mendasar. Sering banyak pihak, paling tidak saat ini, mengkambinghitamkan kasus subprime mortgage (SPM) di USA, termasuk pendapat Roubini. Memang kasus SPM berimplikasi pada ruginya perusahaan-perusahaan investasi besar, bahkan ada beberapa diantaranya yang kolaps. Padahal, kasus itu hanyalah akibat ”inflasi”. Seandainya inflasi di USA tidak naik, yang dibarengi kenaikan suku bunga, mungkin SPM masih aman-aman saja dan kaum menengah bawah USA masih bisa tinggal di rumah-rumah cicilan mereka. Tapi akibat bunga naik, cicilan rumah naik, sementara pendapatan tetap, maka mereka tidak kuat bayar dan terpaksa mereka kembali mengontrak rumah. Keadaan mirip Indonesia tahun 1997, saat krisis ekonomi.

(more…)

Pada saat normal, lembaga keuangan US memberikan kredit kepada kaum sub-prime (berpendapatan rendah). Untuk memacu kredit lanjutan, kredit tersebut di-pool, dipaket dalam bentuk surat berharga dan kemudian dapat diperjualbelikan di pasar finansial.

Ketika terjadi inflasi dengan naiknya minyak dan komoditas, dibarengi kenaikan suku bunga pinjaman, maka kalangan sub-prime tidak mampu membayar kredit. Macetlah kredit itu. Karena macet, maka harga surat berharga atas kredit itu nilainya turun.
Penurunan nilai surat berharga tersebut memicu sejumlah masalah, yang diawali diambilalihnya Bear Stearn, sebuah investment banking, oleh lembaga keuangan lain, hingga bangkrutnya Lehman Brothers. Jadi, krisis finansial US, dipicu dan dimulai dari ketidakmampuan debitur perumahan yang masuk kategori sub-prime di US untuk membayar pinjamannya.
Mengapa menjadi krisis finansial global ? Surat berharga yang berisi subprime mortgage (SPM) disamping diperjualbelikan di pasar modal US, juga menyebar ke pasar modal diluar US. Sehingga krisis SPM pun akhirnya melanda seluruh pasar finansial dunia. Krisis ini bisa dianggap tahap pertama.